Membahas soal kemunafikan kadang bikin bulu kuduk merinding. Sebab sifat ini tak kasat mata, bersembunyi rapi di balik topeng kebaikan. Di dalam ajaran agama, dosa semacam ini punya bobot yang lumayan ekstrem. Lantas, bagaimana sebenarnya hukum orang munafik dalam islam ditetapkan? Apakah mereka bakal terseret ke neraka tanpa harapan, atau masih ada celah buat bertobat? Pertanyaan semacam ini sering muncul, apalagi ketika kita membaca tanda orang munafik dalam al quran yang digambarkan begitu tegas. Kita perlu melongok sejarah untuk benar-benar memahami akibat menjadi orang munafik dan bagaimana Islam menyikapi pelakunya.
Latar Belakang Munculnya Kemunafikan di Madinah
Bicara soal kemunafikan, rasanya tak afdol kalau melewatkan sosok Abdullah bin Ubay bin Salul. Tokoh yang satu ini bukan orang sembarangan. Beliau adalah pemimpin kabilah Khazraj di Madinah. Di masa Jahiliah, popularitasnya bersinar terang. Bahkan penduduk Madinah udah sepakat mau mengangkatnya menjadi raja. Bayangkan, hampir jadi raja. Tapi takdir berkata lain.
Kedatangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hijrah ke Madinah mengubah segalanya. Cahaya Islam menyinari penduduk lokal, kabilah Aus dan Khazraj satu per satu memeluk agama baru ini. Kaum Yahudi pun ada yang masuk Islam, seperti Abdullah bin Salam. Melihat fenomena ini, Abdullah bin Ubay memilih sikap wait and see. Dia nggak buru-buru masuk Islam, lebih suka mengamati perkembangan dari kejauhan.
Perputaran roda waktu membawa perubahan besar ketika Perang Badar pecah. Kaum muslimin menang telak. Di titik inilah hati Abdullah bin Ubay bergetar. Dia sadar kalau Islam udah jadi kekuatan yang gak bisa diremehkan. “Ini perkara yang benar-benar mengarah ke kekuasaan,” gumamnya dalam hati. Sejak itulah dia resmi masuk Islam secara lahiriah, diikuti para pendukungnya.
Tapi jujur saja, keislaman itu cuma basa-basi. Harapannya untuk jadi raja udah pupus. Musnah. Timbullah rasa dendam yang membara di dada. Dari rasa kecewa inilah kelompok munafik pertama di Madinah berdiri. Menariknya, kalau merujuk pada Tafsir Ibnu Katsir, kaum Muhajirin gak ada satupun yang tertempel sifat munafik. Sebab mereka berhijrah dengan kesadaran penuh, tanpa paksaan, murni demi membela agama.
Modus Operandi Abdullah bin Ubay dan Dosa Berwajah Dua
Berbeda dengan musuh yang berhadapan secara terang-terangan, Abdullah bin Ubay musuh dalam selimut. Cara memusuhi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sangat konspiratif. Berbagai contoh perilaku munafik ia lakukan demi melihat umat Islam pecah belah. Dia tahu kelemahan manusiawi dan memanfaatkan celah itu.
Di Perang Uhud, dia bikin heboh dengan mengajak mundur 300 pasukan Islam. Coba bayangkan, di tengah medan perang pasukan ditarik begitu saja. Bukan cuma itu, fitnah keji yang menimpa ‘Aisyah radhiallahu ‘anha juga berawal dari hasutan. Tuduhan selingkuh dengan Shafwan jadi dosa orang bermuka dua yang benar-benar merusak moral dan kehormatan. Bahkan sempat ada rencana pembunuhan terhadap Nabi saat Perang Dzatu Riqa. Sungguh beragam cara dilakukan demi melindungi ego.
Hal-hal semacam ini menegaskan bahaya sifat nifak dalam islam. Mereka senang melihat umat bergesekan. Perpecahan jadi makanan empuk yang menguntungkan posisi mereka di tengah masyarakat. Bisik-bisik, hasutan, dan adu domba jadi senjata utama.
Cara Menghadapi Orang Munafik Menurut Islam: Teladan Rasulullah
Berulang kali disakiti, difitnah, diadu domba, gimana respons Rasulullah? Bisa ditebak, beliau gak memendam kebencian. Justru sikap pemaaf beliau nyaris tak masuk akal. Saat Usamah bin Zaid menceritakan bagaimana Nabi minta pendapat Sa’ad bin ‘Ubadah soal Abdullah bin Ubay, Sa’ad langsung menyarankan untuk berlapang dada.
Sa’ad ingat betul bagaimana penduduk Madinah dulu udah sepakat mengangkat Abdullah bin Ubay jadi raja. Tapi datanglah Islam, dan Allah memberikan kekuasaan itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Rasa kecewa Abdullah bin Ubay yang bikin dia bertindak aneh-aneh. Ujung-ujungnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memilih maafkan dia. (H.R. Al-Bukhari No. 6254 dan Muslim No. 1798).
Insiden yang Nyaris Memicu Pertumpahan Darah
Kericuhan sempat pecah di medan perang. Suku Aus dan Khazraj bertemu, memanggil seruan Jahiliyah, siap berhadapan. Kondisi langsung diredam Nabi. Tapi Abdullah bin Ubay malah kebakaran jenggot. Dia ngomong sembarangan, “Apakah mereka (Kaum Muhajirin) tengah mengumpulkan kekuatan untuk melawan kami? Seandainya kita kembali ke Madinah, maka orang yang kuat pasti akan mengusir orang yang hina dari Madinah.” Kalimat provokatif ini diabadikan langsung dalam QS. Al-Munafiqun [63]: 8.
Spontan Umar bin Khatthab radhiallahu ‘anhu meledak. “Apakah tidak sebaiknya kita bunuh saja orang tercela ini ya Rasulullah?” tanya Umar. Logikanya sih masuk akal. Orang yang bikin rusuh terus kan memang pantas dihukum mati demi kebaikan bersama.
Tapi jawaban Nabi membuat Umar tersenyum kecut. “Tidak, supaya orang-orang tidak berkata bahwa Muhammad membunuh sahabatnya.” (Shahih Al-Bukhari No. 3518). Bijak banget kan? Nabi mikirin citra Islam di mata khalayak umum. Kalau beliau membunuh orang yang secara lahir saudara seiman, bisa-bisa jadi fitnah besar di masa depan.
Bakti Anak vs Dosa Ayah
Anak Abdullah bin Ubay, yang ajaibnya bernama Abdullah juga, punya karakter berbeda 180 derajat dari ayahnya. Ia seorang sahabat yang setia. Pernah suatu ketika anak ini menghadap Nabi. Dia mendengar isu kalau Rasulullah hendak menghukum mati ayahnya.
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya telah sampai berita kepadaku yang mengatakan bahwa engkau hendak membunuh ayahku. Maka demi Allah yang telah mengutusmu dengan kebenaran, aku belum pernah menatap wajah ayahku karena berbakti kepadanya,” ujarnya tegas. Tapi jika itu memang keputusan Nabi, dia siap ngorbanin kepala ayahnya sendiri. Dia gak mau orang lain yang ngerjain. Satu bentuk bakti yang tragis sekaligus mengharukan. (Tafsir Ibnu Katsir).
Kedatangan Malaikat Maut dan Permintaan Terakhir
Waktu pun bergulir. Tiba tahun ke-9 Hijrah, pasca Perang Tabuk, kabar duka menyelimuti perkemahan muslimin. Abdullah bin Ubay jatuh sakit parah di akhir bulan Syawal. Walau tahu persis siapa orangnya dan apa dosa-dosanya, Rasulullah tetap nyempetin diri buat ngejenguk. Beliau bawa Usamah bin Zaid melihat kondisi tokoh munafik itu.
Sikap kemanusiaan Nabi tetap terjaga. Di sinilah letak keindahan Islam. Di titik inilah kita bisa menarik benang merah tentang hukum orang munafik dalam islam di dunia. Mereka tetap diperlakukan sesuai tampilan lahiriahnya. Selama seseorang menyatakan diri sebagai muslim, hak-haknya sebagai muslim berlaku. Soal batinnya berantakan atau gak, itu urusan dia sama Sang Khalik.
Bulan Dzulqa’dah tiba, sang tokoh munafik mengembuskan napas terakhir. Anaknya, Abdullah, jelas sedih. Meski ayahnya bergelimang maksiat, bakti tak boleh surut. Sang anak menghadap Nabi untuk minta baju beliau jadi kain kafan. Niatnya, biar ayahnya dishalati Rasulullah. Satu permintaan terakhir dari seorang anak yang kehilangan sosok ayah.
Kontroversi Shalat Jenazah
Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma meriwayatkan kejadian penuh ketegangan ini. Rasulullah ngasih baju. Lalu anaknya minta didoakan. Saat Nabi bersiap-siap shalat, Umar bin Khatthab langsung nyegat. Dia menarik baju Rasulullah.
“Ya Rasulullah, apakah engkau akan menshalati jenazah Abdullah bin Ubay sedangkan Allah telah melarangnya?” Umar mencoba mengingatkan dengan keras. Nabi menjawab santai, “Sesungguhnya Allah telah memberikan pilihan kepadaku.” Lalu beliau baca ayat yang artinya, memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali atau pun tidak sama saja. Dan Nabi menambahkan, “Aku akan meminta ampun untuknya lebih dari tujuh puluh kali.” (QS. At-Taubah [9]: 80).
Umar ngotot. “Ya Rasulullah, sesungguhnya dia orang munafik.”
Nabi tetap shalati. Bukan lantaran lupa, tapi hukum melarang belom turun. Seusai shalat, wahyu turun mengguncang. QS. At-Taubah [9]: 84 berbunyi tegas: “Janganlah kamu sekali-kali menshalati jenazah seorang di antara orang-orang munafik dan janganlah kamu berdiri di atas kuburnya.” (H.R. Al-Bukhari No. 4670).
Abdullah bin Ubay wafat tanpa sempat bertaubat. Sebuah penyesalan abadi buat keluarga yang ditinggal. Tapi memang kalau dia mau tobat, Allah maha menerima. Seperti ciri ciri orang munafik yang kerap terjebak kesombongan, niat tobat biasanya telat. Kalaupun datang, seringkali saat nyawa udah nyampai di kerongkongan.
Nasib Akhirat: Apakah Orang Munafik Kekal di Neraka?
Inilah pertanyaan paling krusial. Kalau lihat sejarah Abdullah bin Ubay yang gak sempat tobat, nasibnya kelam. Sesungguhnya, tempat orang munafik di neraka itu berada di lapisan paling bawah. Dalam QS. An-Nisa’ [4]: 145, Allah menegaskan posisi mereka berada di tingkatan terdalam dari api. Bikin merinding memang membayangkan balasan orang munafik di akhirat. Sebab tanda orang munafik dalam al quran sering dikaitkan dengan kebohongan dan pengkhianatan, dosa yang mengerikan dampaknya di alam keabadian.
Tapi apakah langsung kekal tanpa akhir? Ayat berikutnya memberi secercah harapan. Ayat ke-146 menyebut pengecualian. “Kecuali orang-orang yang bertaubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.”
Jadi akibat menjadi orang munafik bukanlah vonis mati yang mutlak tanpa jalan keluar. Selama nyawa belum sampai di tenggorokan, pintu tobat selalu terbuka lebar. Tapi begitu nyawa tercabut tanpa tobat, itulah yang jadi tragedi sepanjang masa. Seperti Abdullah bin Ubay, yang statusnya sebagai munafik dibawa sampai ke liang lahat.
Hikmah di Balik Shalat Nabi
Mungkin timbul pertanyaan, kenapa Nabi mau shalati orang munafik? Ini bukan sekadar pelajaran basa-basi. Pertama, ini pengakuan status muslimnya secara zahir. Batinnya berantakan, itu urusannya kelak dengan Sang Khalik. Kedua, ini bentuk penghormatan ke anak yang berbakti. Abdullah bin Abdullah bin Ubay sahabat mulia yang hak-haknya tetap dijaga. Pemberian kain kafan menunjukkan Nabi gak pernah pelang memenuhi permintaan orang yang membutuhkan.
Bagi sang anak, berbakti pada orang tua wajib hukumnya. Meski ortunya jahat sekalipun, selama gak nyuruh maksiat, bakti tetap jalan. Ini pelajaran parenting yang agaknya sering terlupakan di masa kini. Kita sering menuntut kesempurnaan orang lain, lupa kalau kewajiban kita cuma pada amal perbuatan sendiri.
Sikap Mulia yang Patut Ditiru
Sejarah mencatat betapa sabarnya Rasulullah. Dihasut, difitnah, diprovokasi, tetap dimaafkan. Dijenguk saat sakit, dishalati saat wafat. Orang yang baik bakal terus melakukan kebaikan, tak peduli sasarannya orang yang buruk atau gak. Sebaliknya, orang buruk ya terus melukai, walau dihadapkan pada orang suci sekalipun.
Setelah membedah kisah pilu ini, paling tidak kita bisa menarik benang merah tentang bagaimana Islam menyelesaikan masalah kemunafikan dengan adil. Secara tegas hukum orang munafik dalam islam memastikan keadilan di akhirat kelak. Neraka paling bawah menanti pelakunya, tapi tobat bisa menghapus segalanya sebelum kiamat menjemput. Wallahu A’lam bishawab.




Komentar
Bagikan pendapat atau tanggapan Anda tentang artikel ini.