Hikmah

Taqarrub Ilallah: Makna, Cara, dan Amalan untuk Mendekat kepada Allah

Konsep mendekatkan diri kepada Sang Pencipta ini dalam Islam punya istilah khusus: Taqarrub Ilallah.

T

Tim INSAN TELADAN

17 Maret 2025

👁 0 kali dibaca
Advertisement
Layanan jasa pembuatan website murah

Dengarkan Artikel

Gunakan fitur suara untuk mendengarkan isi artikel.

Taqarrub Ilallah: Makna, Cara, dan Amalan untuk Mendekat kepada Allah

Pernahkah kita merasa jauh dari Allah? Rasanya seperti ada jarak yang memisahkan, padahal dalam hati kita tahu Dia Maha Dekat. Konsep mendekatkan diri kepada Sang Pencipta ini dalam Islam punya istilah khusus: Taqarrub Ilallah. Kalau dirunut dari akar katanya, taqarrub berasal dari kata Arab “qaraba” atau “qarib” yang artinya dekat. Jadi secara sederhana, taqarrub ilallah bisa kita artikan sebagai usaha mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Konsep ini bukan cuma istilah yang muncul begitu saja tanpa dasar ya. Ada landasan kuat dari nash-nash syariat yang membahas soal pendekatan diri kepada Allah. Salah satunya hadits qudsi yang diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan firman Allah yang berbunyi:

وَإِذَا تَقَرَّبَ الۡعَبۡدُ إِلَيَّ شِبۡرًا تَقَرَّبۡتُ إِلَيۡهِ ذِرَاعًا وَإِذَا تَقَرَّبَ مِنِّي ذِرَاعًا تَقَرَّبۡتُ مِنۡهُ بَاعًا وَإِذَا أَتَانِي مَشۡيًا أَتَيۡتُهُ هَرۡوَلَةً . – رواه البخاري و مسلم

“Apabila seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal, Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Apabila dia mendekatkan diri kepada-Ku sehasta, Aku akan mendekat kepadanya sedepa. Apabila dia mendatangi-Ku dengan berjalan, Aku akan mendatanginya dengan berlari.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari: 7536 dan Muslim: 2675).

Subhanallah, bayangkan betapa indahnya janji Allah ini. Kita cuma melangkah sedikit, Allah balas berkali lipat lebih banyak. Ini yang bikin hati jadi hangat setiap kali membaca hadits ini.

Memahami Makna Taqarrub dari Sisi Bahasa dan Syariat

Kata “taqarrub” kalau kita bedah dari sisi bahasa Arab, mengandung makna “mencari kedekatan” atau dalam bahasa Arabnya “thalabul qurbi”. Jadi secara literal, taqarrub ilallah artinya mencari kedekatan dengan Allah. Ini dijelaskan Ibnu Hajar Al-Atsqalani dalam kitabnya Fathul Bari (18/342). Dari pemahaman bahasa inilah kemudian para ulama merumuskan definisi yang lebih dalam dari sudut pandang syariat.

Imam An-Nawawi dan Imam Ibnu Hajar Al-Atsqalani memberikan catatan penting nih. Mereka menegaskan bahwa kedekatan yang dimaksud dalam hadits tadi bukanlah kedekatan secara fisik atau jarak tempuh antara manusia dengan Allah. Itu mustahil! Allah Maha Suci dari segala kemiripan dengan makhluk-Nya. Jadi hadits tersebut harus dipahami secara majazi atau kiasan, bukan harfiah. Ini cara yang sudah lazim dalam gaya bahasa Arab.

Lantas apa dong makna syar’i dari taqarrub ilallah? Para ulama sepakat bahwa maknanya adalah melaksanakan ketaatan kepada Allah dengan menjalankan semua kewajiban yang sudah ditetapkan-Nya. Ini bisa kita baca lebih lengkap di Fathul Bari (21/132), Syarh Shahih Muslim (9/35), Al-Muntaqa Syarh Al-Muwatha’ (1/499), dan Syarh Al-Bukhari li Ibni Bathal (20/72).

Ruang Lingkup Amalan Taqarrub: Lebih Luas dari yang Kita Kira

Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya yang masyhur, Jami’ Al-Ulum wal-Hikam (38/9-12), menjelaskan dengan rinci soal ruang lingkup taqarrub ilallah. Ternyata ada dua golongan besar amalan yang bisa jadi sarana kita mendekat kepada Allah:

Pertama, orang yang melaksanakan amalan-amalan fardhu atau wajib. Ini meliputi dua hal: mengerjakan segala perkara yang diwajibkan (fi’lul wajibat) dan meninggalkan hal-hal yang diharamkan (tarkul muharramat). Jadi bukan cuma soal ibadah ritual ya, tapi juga soal menjauhi larangan.

Kedua, orang yang melaksanakan ibadah-ibadah sunnah atau nawafil. Ini bonus setelah kita menjalankan kewajiban-kewajiban dasar.

Yang menarik dari penjelasan Ibnu Rajab adalah bahwa taqarrub ilallah bukan hanya berupa ibadah mahdhah semata lho. Cakupannya jauh lebih luas, mencakup segala aktivitas yang wajib maupun sunnah. Baik itu ibadah mahdhah seperti shalat dan puasa, maupun interaksi sosial antar sesama manusia seperti berbuat baik kepada tetangga, menolong yang membutuhkan, bahkan bekerja mencari nafkah halal pun bisa jadi taqarrub kalau niatnya benar. Bahkan usaha untuk meninggalkan yang haram dan makruh juga termasuk bagian dari taqarrub ilallah. (Ibnu Rajab Al-Hanbali, Jami’ Al-Ulum wal-Hikam 38/12)

Kenapa Taqarrub Ilallah Itu Penting Banget?

Dari definisi yang sudah kita kupas tadi, bisa dipahami bahwa urgensi atau pentingnya taqarrub ilallah adalah untuk meraih kecintaan Allah kepada hamba-hamba-Nya. Ini bukan cuma teori kosong, ada hadits qudsi yang menjelaskannya dengan gamblang. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan firman Allah:

“Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada melaksanakan apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku terus-menerus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah (nawafil) hingga Aku mencintainya.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari: 6502)

Masya Allah! Hadits ini seperti peta jalan menuju cinta Allah. Mulai dari yang wajib dulu, baru ditambah dengan sunnah-sunnah. Ibnu Rajab Al-Hanbali juga menegaskan bahwa ketika seseorang mendekatkan diri kepada Allah, ia akan dicintai oleh Allah. Dan orang yang dicintai Allah? Akan mendapat berbagai balasan baik yang luar biasa dari-Nya. Mulai dari keridhaan, rahmat, limpahan rezeki, taufiq, pertolongan dan masih banyak lagi. (Ibnu Rajab Al-Hanbali, Jami’ Al-Ulum wal-Hikam 38/12 dan Syarh Shahih Muslim 9/35)

Allah Itu Dekat, Sangat Dekat

Sebenarnya Allah sudah menegaskan sendiri dalam Al-Quran bahwa Dia itu dekat. Perhatikan firman-Nya yang sangat menyentuh ini:

“Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia memohon kepada-Ku. Hendaklah mereka memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku supaya mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah [2]: 186)

Ada cerita menarik di balik turunnya ayat ini. Asbabun nuzul atau sebab turunnya adalah ketika ada seorang Arab Badui bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Rasulullah, apakah Tuhan kita dekat sehingga kita akan bermunajat (berbisik) kepada-Nya? Atau Dia jauh sehingga kita harus menyeru-Nya dengan keras?” Rasulullah diam sejenak, lalu turunlah ayat ini sebagai jawaban langsung dari Allah.

Riwayat ini dicatat oleh Ibnu Abu Hatim sebagaimana yang dikutip Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Juga diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, Ibnu Murdhawih dan Abus-Syaikh Al-Asbahani.

Makna yang dimaksud adalah Allah tidak akan mengecewakan doa dari orang-orang yang berdoa kepada-Nya. Banyak dalil baik dari Al-Quran maupun hadits shahih yang menyebutkan bahwa Allah dekat dengan hamba-hamba-Nya yang beriman, bertakwa dan selalu berbuat kebaikan. Tapi ingat ya, makna dekat yang dimaksud bukan dekat secara tempat atau jarak, melainkan Allah selalu memperhatikan setiap amal hamba-Nya, mendengar setiap keluh kesah, dan mengabulkan setiap doa hamba-Nya.

Allah berfirman lagi dalam surat lain:

“Sungguh Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya. Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS. Qaf [50]: 16)

Ayat ini bikin merinding setiap kali dibaca. Lebih dekat dari urat leher! Padahal urat leher itu ada di dalam tubuh kita sendiri. Ini menggambarkan betapa Allah mengetahui segala sesuatu tentang kita, bahkan yang kita sendiri tidak sadari.

Ada lagi firman-Nya:

“Sungguh Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. An-Nahl [16]: 128)

Cara Praktis Mendekatkan Diri kepada Allah

Terus gimana sih caranya? Ada hadits qudsi yang memberikan petunjuk praktis. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan firman Allah:

“Aku selalu bersama hamba-Ku jika dia mengingat (berzikir) kepada-Ku dan kedua bibirnya menyebut nama-Ku.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah: 3792 dan Ahmad: 10552)

Dari hadits qudsi ini, bisa kita simpulkan bahwa salah satu cara mudah namun dahsyat untuk mendekatkan diri kepada Allah adalah dengan rajin berzikir dan mengingat Allah di mana pun kita berada dan kapan pun waktunya. Tidak harus di masjid atau mushalla. Di perjalanan, di kantor, di rumah, bahkan sambil rebahan pun bisa.

Allah menggambarkan hamba-hamba-Nya yang bertakwa sebagai:

“Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi…” (QS. Ali Imran [3]: 191)

Lihat? Tidak ada batasan posisi atau waktu untuk berzikir dan mengingat Allah. Yang penting hati kita selalu terhubung dengan-Nya.

Tips Konkret Mewujudkan Taqarrub dalam Keseharian

Biar tidak melulu teori, yuk kita breakdown cara-cara praktis yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari:

Pertama, jaga kewajiban lima waktu. Ini fondasi utama. Shalat lima waktu tepat waktu dengan khusyuk adalah bentuk taqarrub paling dasar namun paling penting. Jangan sampai kita sibuk mencari amalan-amalan sunnah tapi yang wajib masih bolong-bolong.

Kedua, perbanyak shalat malam atau qiyamullail. Ini amalan sunnah yang sangat dicintai Allah. Waktu sepertiga malam terakhir adalah waktu istimewa ketika Allah turun ke langit dunia dan bertanya, “Adakah yang berdoa supaya Aku kabulkan? Adakah yang memohon supaya Aku beri?”

Ketiga, perbanyak membaca dan merenungi Al-Quran. Bukan sekadar baca cepat-cepat buat khatam, tapi benar-benar meresapi maknanya. Kadang satu ayat yang kita renungkan mendalam lebih bermakna daripada membaca satu juz tanpa tadabbur.

Keempat, jaga lisan dari ghibah, fitnah, dan perkataan sia-sia. Ini bagian dari meninggalkan yang haram dan makruh yang juga termasuk taqarrub ilallah. Berat memang, tapi ini latihan pengendalian diri yang luar biasa.

Kelima, berbuat baik kepada sesama. Ini sering terlupakan padahal sangat penting. Menolong tetangga yang kesulitan, memberikan sedekah kepada fakir miskin, menjenguk yang sakit, bahkan sekadar senyum kepada orang lain pun bisa jadi ibadah kalau diniatkan untuk Allah.

Keenam, istiqomah dalam amalan sekecil apapun. Rasulullah bersabda bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah yang kontinyu meskipun sedikit. Lebih baik dzikir 10 menit setiap hari daripada dzikir 2 jam tapi cuma seminggu sekali.

Penutup: Jangan Berhenti Berusaha

Jalan menuju Allah memang tidak selalu mulus. Ada kalanya kita merasa semangat luar biasa, ada kalanya kita merasa hambar dan jauh. Ini wajar, namanya juga manusia. Yang penting jangan berhenti berusaha. Ingat hadits di awal tadi? Allah akan mendekat kepada kita berkali lipat lebih banyak dari usaha kecil yang kita lakukan.

Taqarrub ilallah bukan soal sempurna dalam sekejap. Ini proses panjang yang butuh konsistensi, kesabaran, dan istiqomah. Yang penting kita terus melangkah, meski pelan, meski terkadang tersandung. Allah melihat niat dan usaha kita, bukan hasil akhirnya.

Semoga tulisan ini bisa jadi pengingat buat kita semua, termasuk saya pribadi yang masih jauh dari sempurna. Mudah-mudahan dengan memahami konsep taqarrub ilallah, kita jadi lebih termotivasi untuk mendekatkan diri kepada Allah dalam setiap aspek kehidupan. Karena pada akhirnya, tujuan hidup kita memang untuk beribadah kepada-Nya dan meraih keridhaan-Nya.

Wallahu a’lam bishawab. Semoga bermanfaat.

Artikel Terkait

Advertisement
Advertisement

Komentar

Bagikan pendapat atau tanggapan Anda tentang artikel ini.