Hikmah

Sedekah Mencegah Kematian yang Buruk: Benarkah Demikian?

Di tengah kebisingan hidup, ada sebuah keyakinan yang tertanam kuat, bahwa sedekah mencegah kematian yang buruk. Benarkah demikian? Mari kita bedah persoalan ini bersama-sama.

T

Tim INSAN TELADAN

29 Agustus 2021

👁 0 kali dibaca
Advertisement
Layanan jasa pembuatan website murah

Dengarkan Artikel

Gunakan fitur suara untuk mendengarkan isi artikel.

Sedekah Mencegah Kematian yang Buruk: Benarkah Demikian?

Di tengah riuhnya kehidupan modern, manusia kerap kali sibuk mengejar hal-hal yang bersifat duniawi tanpa pernah memikirkan bekal akhir hayat. Kita berlari mengumpulkan harta, menjaga kesehatan fisik, dan membeli asuransi untuk melindungi masa depan. Pertanyaannya, apakah kita sudah mempersiapkan jaminan saat nyawa hendak dicabut? Di tengah kebisingan hidup, ada sebuah keyakinan yang tertanam kuat, bahwa sedekah mencegah kematian yang buruk. Benarkah demikian? Mari kita bedah persoalan ini bersama-sama.

Ungkapan ini bukanlah sekadar dongeng kuno atau mitos yang diwariskan turun-temurun tanpa makna. Dalam ajaran Islam, pernyataan tersebut memiliki landasan dalil syar’i yang sah, baik hasan maupun shahih, bersumber langsung dari hadis-hadis Nabi Muhammad SAW. Para ulama menjelaskan sedemikian rupa tentang bagaimana sedekah tidak sebatas mengantar pahala di akhirat kelak. Amalan ini memberikan semacam tameng pelindung dan keberkahan langsung selama seseorang masih bernapas di dunia.

Dalil dan Landasan Syar’i

Bicara soal kebenaran sebuah klaim dalam Islam, kita tidak bisa hanya bertumpu pada logika atau perasaan manusiawi semata. Keharusan untuk kembali pada Al-Qur’an dan Sunnah adalah keniscayaan. Ada banyak anjuran bersedekah dalam Islam, namun spesifik soal kematian, riwayat menunjukkan korelasi yang cukup menggetarkan hati.

Hadits tentang sedekah menolak bala

Salah satu dalil utama yang sering dijadikan rujukan oleh para ulama adalah hadis dari sahabat Anas bin Malik RA. Di situ Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ الصَّدَقَةَ لَتُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ وَتَدْفَعُ مِيتَةَ السُّوءِ

“Sesungguhnya sedekah itu benar-benar memadamkan murka Allah dan mencegah kematian yang buruk (su’ul khatimah).”

(HR. Tirmidzi no. 664, dinilai hasan oleh sebagian ulama hadis)

Bukti nyata bahwa dalil sedekah menolak bala memang ada dan tercatat dengan sanadnya. Riwayat lain juga memperkuat hal ini. Diriwayatkan dari Amr bin Auf RA, Rasulullah SAW menyebutkan bahwa sedekah seorang muslim dapat menambah umur, mencegah kematian yang buruk, sekaligus menghilangkan sikap sombong dan membanggakan diri. Hadis ini termaktub dalam Al-Mu’jam Al-Kabir karya Ath-Thabrani. Sungguh sebuah keajaiban sedekah yang kadang luput dari perhitungan akal kita.

Memahami Konsep Kematian yang Buruk

Sebelum melangkah lebih jauh, ada baiknya kita merenung sejenak. Apa sih sebenarnya yang dimaksud dengan kematian buruk atau su’ul khatimah? Bukankah kematian sudah suratan yang pasti datangnya? Betul sekali, kematian pasti menjemput. Tapi caranya lah yang menjadi fokus perhatian para ulama. Pakar fikih dan syarah hadis seperti Imam Al-Mubarakfuri dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi menguraikan dua aspek utama dari konsep kematian yang buruk ini.

Aspek Spiritual

Dari sisi spiritual, ini berkaitan erat dengan kondisi hati dan keimanan seseorang saat nyawa hendak dicabut. Bayangkan saat sakaratul maut tiba, tiba-tiba iman terhapus dari dada, alias meninggal dalam keadaan berpaling dari agama. Atau mungkin meninggal saat sedang asyik bermaksiat dan belum sempat menghembuskan napas taubat. Ada juga kondisi di mana lidah kelu, tidak mampu lagi mengucapkan kalimat tauhid Laa ilaaha illallah. Inilah momen paling menakutkan bagi seorang mukmin.

Aspek Fisik dan Keadaan Duniawi

Secara fisik, keadaan ini bisa berwujud kematian mendadak yang sangat tragis. Misalnya kecelakaan mengerikan yang menghilangkan kesempatan untuk berwasiat atau memohon ampun. Atau mungkin menghembuskan napas terakhir dalam bencana, kondisi kehinaan, maupun penderitaan ekstrem tanpa ada jeda untuk bersabar. Tidak ada seorang pun yang menginginkan kondisi seperti ini, bukan?

Bagaimana Sedekah Mampu Melindungi?

Lalu muncul pertanyaan logis. Apa hubungannya memberikan uang ke kotak amal atau menyalurkan beras ke panti asuhan dengan cara kita mati? Memangnya uang bisa menolak takdir? Logika sederhananya begini. Sedekah mengikis sifat kikir, sombong, dan cinta duniawi yang berlebihan. Padahal, hubbud dunya atau kecintaan pada dunia inilah yang sering kali menjadi akar dari hilangnya keimanan saat sakaratul maut. Saat seseorang terbiasa berbagi, hatinya cenderung lebih bersih dan lapang.

Sedekah yang dilakukan ikhlas—terutama yang tersembunyi atau sirr—merupakan bukti nyata kepedulian sekaligus bentuk ketaatan. Ini dipercaya menggugurkan dosa-dosa kecil dan meredakan kemurkaan Allah SWT. Belum lagi doa dari penerima. Fakir miskin atau anak yatim yang terbantu sering kali melantunkan doa kebaikan dan keselamatan untuk sang dermawan. Doa mereka menjadi semacam sedekah untuk perlindungan diri. Semua faktor ini berpadu menjadi satu kekuatan tak terlihat. Melihat rentetan sebab-akibat ini, sangat wajar jika dikatakan bahwa sedekah mencegah kematian yang buruk. Sebuah jalinan yang begitu agung.

Keutamaan dan Manfaat Lain dari Sedekah

Meluruskan niat dan rutin berbagi ternyata membawa efek positif lain yang tak kalah luar biasa. Begitu banyak manfaat sedekah dalam Islam yang bisa kita rasakan langsung di masa kini.

Pahala sedekah dan keberkahan hidup

Dari sisi waktu, sedekah memperpanjang umur. Tunggu dulu, bukan berarti menambah usia biologis secara harfiah ya. Keberkahan umurnya terasa penuh dengan ketaatan dan manfaat bagi orang lain. Sedekah sebagai penolak musibah juga sangat nyata. Harta yang dikeluarkan membuat seseorang terhindar dari berbagai marabahaya dan penyakit. Bukankah sedekah menolak bala sudah dijanjikan oleh Rasulullah?

Salah satu hikmah bersedekah yang paling terasa adalah melapangkan rezeki. Setiap rupiah yang dikeluarkan, Allah ganti dengan keberkahan yang melimpah dari arah yang tidak disangka-sangka. Banyak orang yang melakukan sedekah sebelum musibah sebagai bentuk ikhtiar dan pencegahan. Inilah yang membuat sedekah menghindarkan dari keburukan. Sedekah untuk keselamatan bukanlah sekadar kata-kata, melainkan praktik nyata yang dirasakan oleh banyak hati yang tulus. Bahkan, amalan ini bisa menjadi sedekah sebagai amal jariyah, terlebih bila harta digunakan untuk membangun fasilitas umum yang bermanfaat terus-menerus. Luar biasa, bukan?

Penutup dan Renungan

Menelusuri berbagai dalil dan penjelasan ulama, kita bisa menarik benang merah yang cukup gamblang. Pernyataan bahwa sedekah mencegah kematian yang buruk adalah benar dan valid secara dalil. Akan tetapi, agar semua keutamaan ini bisa teraih dengan sempurna, ada syarat mutlak yang wajib dipenuhi.

Sedekah harus dilakukan dengan keikhlasan tulus tanpa mengharap pujian. Harta yang dikeluarkan juga harus berasal dari rezeki yang halal, bukan hasil mencuri atau merampas. Jangan menunda-nunda. Biasakan berbagi secara rutin tanpa menunggu momen sakaratul maut tiba. Mengamalkan anjuran ini adalah salah satu amalan agar terhindar dari kematian buruk. Dengan begitu, korelasi antara sedekah dan kematian akan berujung pada kebaikan. Wallahu a’lam bishawab.

Artikel Terkait

Advertisement
Advertisement

Komentar

Bagikan pendapat atau tanggapan Anda tentang artikel ini.