Aqidah

Hukum Karma dalam Islam: Sikap dan Pandangan yang Perlu Dipahami

Tapi, tahukah Anda bagaimana sebenarnya Hukum Karma dalam Islam dipandang? Apakah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ini mengakui adanya semacam siklus balasan otomatis seperti itu?

T

Tim INSAN TELADAN

13 September 2021

👁 0 kali dibaca
Advertisement
Layanan jasa pembuatan website murah

Dengarkan Artikel

Gunakan fitur suara untuk mendengarkan isi artikel.

Hukum Karma dalam Islam: Sikap dan Pandangan yang Perlu Dipahami

Mendengar kata karma, pikiran kita mungkin langsung bercabang pada ungkapan “siapa yang menabur, dia yang menuai”. Konsep ini memang sudah sangat mengakar di masyarakat. Sering kali kita melihat seseorang mengalami keburukan, lalu spontan berkata, “Itu karma dia.” Tapi, tahukah Anda bagaimana sebenarnya Hukum Karma dalam Islam dipandang? Apakah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ini mengakui adanya semacam siklus balasan otomatis seperti itu?

Coba kita tarik benang merahnya. Memang benar Islam mengajarkan adanya sebab akibat. Tapi urat masalahnya berbeda. Pemahaman karma yang berkembang di luar sana kerap kali membawa nuansa reinkarnasi, sesuatu yang sangat ditolak oleh tauhid. Di sinilah letak pentingnya membedakan antara istilah karma yang berasal dari tradisi lain dengan konsep pembalasan dalam Islam yang berasal dari Sang Maha Pencipta.

Asal Usul Konsep Karma dari Perspektif Lain

Untuk memahami posisi Islam, kita perlu tahu dulu dari mana karma ini bermula. Dalam buku Al-Mausu’ah al-Muyassarah Fil Adyan wa Madzahib wal Ahzab (hal. 728), dijelaskan secara rinci apa itu karma menurut ajaran Hindu.

“Karma dalam ajaran Hindu adalah hukum balasan, yaitu aturan Ilahi yang dibangun atas prinsip keadilan semata. Keadilan ini bisa saja terjadi pada kehidupan saat ini atau pada kehidupan yang akan datang (setelah reinkarnasi). Balasan kehidupan yang sekarang akan diterima pada kehidupan setelahnya. Bumi (dunia) adalah negeri tempat ujian, sebagaimana juga sebagai tempat mendapat balasannya.”

Lebih jauh lagi, ensiklopedia tersebut memaparkan keyakinan tentang proses penyucian jiwa yang berputar tanpa henti.

“Setiap manusia akan kembali dilahirkan dan mati selama karma melekat pada ruhnya. Jiwanya tidak akan suci hingga ia terbebas dari karma, ketika segala keinginannya berakhir. Di situlah ia bisa hidup kekal dalam kenikmatan yang disebut sebagai tingkatan nirwana.”

Reinkarnasi dan Dosa yang Melekat

Dari kutipan di atas, jelas terlihat bahwa inti dari ajaran karma ini bersanding erat dengan keyakinan reinkarnasi. Jiwa diyakini terus lahir dan mati untuk menebus perbuatan di kehidupan lampau. Konsep inilah yang menjadi batu sandungan. Segala keyakinan dan pemahaman yang menisbatkan hukum balasan otomatis ini tidak bersumber dari Allah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan, keyakinan terhadap karma ini masuk ke dalam kategori keyakinan batil dan menyimpang dari aqidah Islam.

Lalu, terus bagaimana sikap dan pandangan Islam terhadapnya?

Sikap dan Pandangan Islam Tentang Karma

Ketika berhadapan dengan musibah atau kejadian tertentu, manusia sering tergoda untuk langsung mencari kambing hitam di masa lalu. Padahal, karma menurut Islam tidak mengizinkan kita bersikap demikian. Tidak dibenarkan bila seseorang memastikan bahwa suatu keburukan yang menimpa orang lain disebabkan oleh perbuatan buruk tertentu di masa lalunya.

Misalnya, ada tetangga sedang sakit parah. Lalu datang seseorang berkata, “Engkau sakit parah ini karena dahulu engkau sering menipu, ini hukum karma buatmu.” Ucapan seperti ini, selain menyakitkan, juga melanggar batas wilayah ghaib. Dari mana ia tahu bahwa penyebab sakitnya murni karena ia suka menipu?

Menebak Hal Ghaib dalam Kehidupan

Allah berfirman dalam QS. An-Naml [28]: 65:

قُل لَّا يَعۡلَمُ مَن فِي ٱلسَّمٰوٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ٱلۡغَيۡبَ إِلَّا ٱللَّهُۚ وَمَا يَشۡعُرُونَ أَيَّانَ يُبۡعَثُونَ ٦٥

“Katakanlah: Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.”

Penyakit itu bisa jadi murni ujian ketaatan. Bisa jadi pula akibat dari dosa lain yang tidak diketahui manusia. Kita sama sekali tidak punya akses untuk mengetahui koneksi spesifik antara satu perbuatan buruk dengan musibah tertentu. Menjaga lisan dan tidak menghakimi nasib orang lain adalah sikap Muslim terhadap karma yang paling mendasar.

Hukum Sebab Akibat dalam Islam: Setiap Perbuatan Ada Balasannya

Walaupun Islam menolak istilah karma yang bercampur dengan reinkarnasi, bukan berarti Islam menghapus konsep sebab akibat. Konsep karma dalam Islam lebih tepat disebut sebagai hukum jaza’ atau balasan. Apabila seseorang beramal baik, maka Allah akan membalas kebaikan itu. Begitu pula sebaliknya, jika seseorang beramal buruk, maka Allah akan menimpakan keburukan untuknya.

Allah menyampaikan prinsip ini beberapa kali dalam Al-Quran. Di antaranya adalah firman-Nya dalam QS. Al-An’am [6]: 160:

مَن جَآءَ بِٱلۡحَسَنَةِ فَلَهُۥ عَشۡرُ أَمۡثَالِهَاۖ وَمَن جَآءَ بِٱلسَّيِّئَةِ فَلَا يُجۡزَىٰٓ إِلَّا مِثۡلَهَا وَهُمۡ لَا يُظۡلَمُونَ ١٦٠

“Barang siapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barang siapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan).”

Dan juga dalam QS. An-Nisa’ [4]: 123:

… مَن يَّعۡمَلۡ سُوٓءٗا يُجۡزَ بِهِۦ وَلَا يَجِدۡ لَهُۥ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَلِيّٗا وَلَا نَصِيرٗا ١٢٣

“… Barang siapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi balasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah.”

Pahala dan Balasan Amal Kebaikan

Ada satu hal unik terkait pahala dan balasan amal. Islam tidak memandang baik dan buruk dengan timbangan yang sama. Perbuatan baik dibalas berlipat ganda. Sebaliknya, perbuatan buruk dibalas sebanding dengan kesalahannya. Hal ini menunjukkan betapa besar keadilan Allah dalam Islam dan kasih sayang-Nya.

Allah menegaskan dalam QS. Az-Zalzalah [99]: 7-8:

فَمَن يَّعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ خَيۡرٗا يَّرَهُۥ ٧ وَمَن يَّعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٖ شَرّٗا يَّرَهُۥ ٨

“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.”

Juga dalam QS. Ar-Rahman [55]: 60:

هَلۡ جَزَآءُ ٱلۡإِحۡسٰنِ إِلَّا ٱلۡإِحۡسٰنُ ٦٠

“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).”

Berdasarkan nash-nash di atas, para ulama merumuskan sebuah kaidah penting yang berbunyi: اَلۡجَزَاءُ مِنۡ جِنۡسِ الۡعَمَل (Balasan itu tergantung jenis amalnya). Jadi, amal perbuatan dan balasannya dijamin oleh Allah.

Balasan di Dunia dan di Akhirat

Ketika membicarakan sebab akibat ini, muncul pertanyaan menarik. Kapankah balasan itu dijatuhkan? Di sinilah letak pemahaman yang sering tertukar. Dalam karma dalam perspektif Islam atau lebih tepatnya ajaran Islam itu sendiri, balasan bisa langsung diterima di dunia, tapi bisa juga ditunda sampai akhirat.

Allah berfirman dalam QS. As-Syura [42]: 30:

وَمَآ أَصٰبَكُم مِّن مُّصِيبَةٖ فَبِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِيكُمۡ وَيَعۡفُواْ عَن كَثِيرٖ ٣٠

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).”

Dari ayat ini dipahami bahwa musibah yang terjadi bisa menjadi wujud perbuatan buruk dan akibatnya dalam Islam. Tapi ingat, bukan berarti kita bisa seenaknya menuduh orang yang kena musibah bahwa ia berdosa. Karena musibah itu sendiri berfungsi ganda. Bagi seorang mukmin, musibah bisa menjadi sarana penggugur dosa dan balasan dalam Islam di dunia agar kelak di akhirat ia bersih.

Musibah Sebagai Penghapus Dosa

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan gambaran yang sangat menenangkan. Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau bersabda:

مَا مِنۡ مُصِيبَةٍ تُصِيبُ الۡمُسۡلِمَ إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا عَنۡهُ حَتَّى الشَّوۡكَةِ يُشَاكُهَا (رواه البخاري ومسلم)

“Tidak ada satu pun musibah yang menimpa seorang muslim melainkan dosanya akan dihapus oleh Allah dengannya, sekalipun musibah itu hanya karena tertusuk duri.” (H.R. Al-Bukhari: 5640 dan Muslim: 2572).

Bahkan dalam riwayat lain yang dikeluarkan Ahmad, dijelaskan bahwa jika dosa seorang hamba sudah menumpuk dan tak ada amal yang bisa menghapusnya, Allah akan mengujinya dengan kesedihan. Jadi, perbuatan baik dan balasan dalam Islam bisa juga berbentuk penghapusan dosa lewat ujian kesedihan. Kalau dihadapi dengan kesabaran, musibah dunia ini justru menjadi jalan menuju keselamatan akhirat.

Dalil lain tentang balasan kebaikan juga ditegaskan dalam hadis dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu:

مَنۡ نَفَّسَ عَنۡ مُؤۡمِنٍ كُرۡبَةً مِنۡ كُرَبِ الدُّنۡيَا نَفَّسَ اللهُ عَنۡهُ كُرۡبَةً مِنۡ كُرَبِ يَوۡمِ الۡقِيَامَةِ… (رواه مسلم)

“Barang siapa membebaskan seorang mukmin dari suatu kesulitan dunia, maka Allah akan membebaskannya dari suatu kesulitan pada hari kiamat…” (H.R. Muslim: 2699, Abu Daud: 4946 dan At-Tirmidzi: 1425).

Terkait balasan perbuatan dalam Islam di akhirat, Al-Quran juga memberikan penjelasan tegas. Dalam QS. Ali Imran [3]: 145:

وَمَا كَانَ لِنَفۡسٍ أَن تَمُوتَ إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللَّهِ كِتٰبٗا مُّؤَجَّلٗاۗ وَمَن يُرِدۡ ثَوَابَ ٱلدُّنۡيَا نُؤۡتِهِۦ مِنۡهَا وَمَن يُرِدۡ ثَوَابَ ٱلۡأٓخِرَةِ نُؤۡتِهِۦ مِنۡهَاۚ وَسَنَجۡزِي ٱلشّٰكِرِينَ ١٤٥

“… Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”

Allah juga memperingatkan orang yang hanya mengejar dunia dalam QS. As-Syura [42]: 20 dan Al-Isra’ [17]: 18-19. Mereka yang hanya mengejar kenikmatan duniawi semata akan diberi di dunia, tapi tidak punya bagian di akhirat. Inilah esensi dari karma menurut Al-Quran dan karma dalam hadis. Balasannya jelas, tertata, dan di bawah kendali Allah, bukan sebuah sistem kosmis yang mandiri.

Menolak Keyakinan Reinkarnasi

Sebenarnya reinkarnasi inilah yang menjadi fondasi utama keyakinan hukum karma. Bagaimana mungkin ada balasan di kehidupan selanjutnya jika kehidupan selanjutnya itu dianggap sebagai perwujudan baru dari jiwa yang sama di dunia yang sama? Ajaran Islam tidak mengenal reinkarnasi sama sekali. Ketika seseorang mati, ia tidak akan dihidupkan kembali di dunia berwujud makhluk lain. Manusia akan masuk ke alam kubur (barzakh) untuk menunggu hari kiamat, lalu dibawa ke alam akhirat mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Maka, hubungan antara karma dan takdir sebenarnya tidak berdiri di atas konsep reinkarnasi. Takdir adalah ketetapan Allah yang sudah ditulis, dan di dalamnya mencakup jalan sebab akibat yang kita pilih sendiri secara bebas. Penolakan terhadap konsep hubungan karma dengan takdir yang keliru harus dilakukan tegas.

Sikap Muslim Terhadap Karma dan Takdir

Pada titik ini, mungkin timbul pertanyaan. Kalau begitu, apa yang sebaiknya kita lakukan sebagai seorang muslim? Pemahaman karma dalam Islam mengharuskan kita untuk berhati-hati dalam bertutur kata dan menyikapi kehidupan. Ada beberapa hal yang perlu menjadi pegangan.

Pertama, jangan pernah menggunakan istilah karma dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi sampai mengaitkan musibah yang menimpa orang lain sebagai balasan dari dosa masa lalunya secara spesifik. Itu bukan kewenangan kita.

Kedua, jika mendapat kebaikan, entah itu rezeki atau kesuksesan, kembalikan semua pada Allah. Bersyukurlah karena itu adalah bentuk konsep pembalasan dalam Islam yang diberikan lebih awal di dunia.

Ketiga, manakala musibah atau keburukan datang bertubi-tubi, jangan mencari-cari “karma” apa yang sedang terjadi. Mohonlah ampunan kepada Allah. Hadapi dengan ikhlas. Bisa jadi musibah itu justru tanda cinta Allah untuk menghapus dosa-dosa yang lalu. Sebagaimana yang tertuang dalam hadis tentang tertusuk duri yang disebutkan tadi.

Keempat, kalau keburukan itu berkaitan dengan interaksi sesama manusia, misalnya kita pernah menyakiti hati teman, maka selain memohon ampun kepada Allah, minta maaflah kepada yang bersangkutan. Karma menurut Islam atau lebih tepatnya sistem balasan, sangat menghargai keadilan horizontal antar makhluk.

Kelima, tetaplah berbuat baik kepada siapa pun dan di mana pun. Bukan karena takut hukum karma, melainkan demi mengharap ridha Allah. Pandangan Islam tentang karma mengajarkan kita untuk beramal tanpa terikat pada perhitungan sihir alam semesta, melainkan tunduk pada ketentuan Tuhan Semesta Alam.

Kesimpulan

Menyimpulkan pembahasan ini, sejatinya istilah karma tidak memiliki tempat dalam aqidah Islami. Hukum karma tidak pernah diajarkan oleh Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, para sahabat, maupun para ulama. Konsep tersebut lahir dari rahim tradisi Hindu dan Buddha yang sangat erat kaitannya dengan siklus kelahiran kembali atau reinkarnasi.

Tidak dibenarkan untuk mengaitkan sebab-akibat suatu keburukan dengan perbuatan buruk di masa lalu secara spesifik. Mengira bahwa sakit parah itu murni karena pernah menipu, berarti melampaui batas pengetahuan ghaib yang hanya milik Allah. Keburukan itu bisa jadi ujian, bisa jadi penghapus dosa, atau sebab alamiah lain.

Semua perbuatan baik dan balasan dalam Islam begitu pula keburukannya, pasti ada jalan balasannya. Allah akan membalasnya, entah di dunia atau kelak di akhirat. Maka dari itu, jika kita menolak keyakinan reinkarnasi karena dianggap menyimpang, secara otomatis kita pun harus menolak keyakinan hukum karma.

Pada akhirnya, memahami batas tegas terkait Hukum Karma dalam Islam sangat penting agar seorang muslim tidak terjebak pada ajaran yang menyimpang. Jaga lisan, perbanyak taubat, dan terus beramal saleh. Wallahu A’lam.

Artikel Terkait

Advertisement
Advertisement

Komentar

Bagikan pendapat atau tanggapan Anda tentang artikel ini.