Menyimak jejak sosok seperti Muhammad bin Idris asy-Syafi’i rahimahullah sering kali membuat kita terdiam. Kalian pasti sudah tidak asing lagi mendengar nama besar ini. Beliau adalah seorang ulama luar biasa dari generasi tabi’ut tabi’in yang berhasil merumuskan salah satu dari empat mazhab fiqih ahlussunnah wal jamaah, sebuah sistem hukum yang masih bertahan kokoh hingga detik ini. Membaca biografi imam asy syafi i memang membawa kita pada rentetan kejadian yang bikin takjub, bahkan kadang susah dipercaya kalau bukan fakta sejarah yang sudah diverifikasi oleh para ahli. Biografi Imam Syafi’i memang penuh dengan hal-hal yang menggetarkan hati.
Beliau ini bukan sekadar ulama biasa. Sejarah Imam Syafi’i mencatat bahwa beliau adalah orang pertama yang menyusun ilmu ushul fiqih lewat karyanya yang monumental. Kitab itu kemudian menjadi semacam pegangan para ulama setelahnya dalam memahami metodologi penetapan hukum Islam. Para ulama yang hidup sezaman dengan beliau bahkan memberikan gelar kehormatan: nashirussunah, sang penolong dan penghidup sunnah. Kenapa begitu? Ya, karena dengan argumen-argumennya yang tajam, beliau berhasil membungkam pihak-pihak yang berusaha melemahkan kedudukan hadits sebagai sumber hukum Islam setelah Al-Qur’an.
Imam Ahmad bin Hanbal, salah satu dari empat imam mazhab, pernah mengeluarkan pernyataan yang cukup mengena. Beliau berkata bahwa Syafi’i itu laksana matahari bagi dunia, seperti kesehatan bagi kehidupan manusia. Perumpamaan yang indah sekaligus sangat dalam. Coba renungkan sebentar, kehidupan manusia tanpa kesehatan itu seperti apa? Pasti susah banget. Begitu juga dunia tanpa ilmu Syafi’i, rasanya akan gelap gulita. Profil Imam Syafi’i benar-benar memberikan warna tersendiri dalam khazanah keilmuan Islam.
Asal Usul dan Kelahiran Sang Imam
Nasab dan Tempat Lahir
Berbicara tentang asal-usul, nama lengkap Imam Syafi’i adalah Abu Abdullah Muhammad bin Idris bin Al-Abbas bin Utsman bin Syafi’i bin As-Saib bin Ubaid bin Abd Yazid bin Hasyim bin Al-Muttalib. Nasab Imam Syafi’i sangat mulia, bertemu dengan nasab Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pada kakeknya, Abdul Manaf. Tempat lahir Imam Syafi’i dipercaya berada di Gaza, Palestina, pada tahun 150 Hijriah. Tahun lahir Imam Syafi’i ini sangat unik karena bertepatan dengan tahun wafatnya Imam Abu Hanifah, seolah menandai pergantian estafet keilmuan di dunia Islam.
Masa Kecil yang Penuh Berkah
Ayahnya meninggal dunia saat beliau masih sangat kecil. Ibunya kemudian membawa beliau pindah ke Makkah. Masa kecil Imam Syafi’i dihabiskan dalam kondisi yatim dan kekurangan secara materi. Tapi justru dari keterbatasan itu tumbuh semangat luar biasa. Beliau kecil sering mencari kayu bakar di daerah Jurhum untuk ditukar dengan uang sewa kertas pelajaran dari para guru.
Ini dia yang bikin banyak orang geleng-geleng kepala. Kecerdasan beliau sudah keliatan sejak masih bocah. Di usia 7 tahun, saat anak-anak zaman sekarang masih sibuk bermain, dia sudah mengkhatamkan hafalan Al-Qur’an 30 juz. Sebelum baligh, beliau sudah menghafal kitab hadits seperti al-Muwatha’ karya Imam Malik yang tebalnya bukan main-main.
Kekuatan hafalannya benar-benar di luar nalar. Ini bukan cuma sekadar hafalan biasa yang bisa hilang besok pagi. Beberapa riwayat menyebutkan kalau beliau sedang membaca buku, dia akan menutup halaman berikutnya dengan tangannya. Kenapa gitu? Karena kalau sampai matanya terlirik ke halaman itu, langsung ikut terhafal juga. Beliau takut hafalannya jadi kacau karena tercampur sama bacaan yang belum waktunya. Bisa dibayangkan kalau kita punya kemampuan kayak gitu. Tentu saja kemampuan luar biasa ini datang dari karunia sekaligus usaha keras yang tak kenal lelah.
Perjalanan Menuntut Ilmu Imam Syafi’i
Belajar di Makkah dan Madinah
Pendidikan Imam Syafi’i tidak terbatas pada satu tempat saja. Beliau ibarat mahasiswa yang gemar mencari ilmu ke mana-mana. Imam Syafi’i di Makkah belajar kepada ulama besar seperti Sufyan bin Uyainah dan Muslim bin Khalid Az-Zanji. Pada usia yang relatif muda, beliau sudah diberi izin untuk mengajar di Masjidil Haram.
Perjalanan menuntut ilmu Imam Syafi’i kemudian membawanya ke Madinah. Di kota Nabi ini, beliau menimba ilmu dari pendiri Mazhab Maliki, Imam Malik bin Anas. Kisah Imam Syafi’i dan Imam Malik cukup legendaris. Sebelum berangkat, ibunya menyiapkan bekal dan beliau menghafal al-Muwatha’ terlebih dahulu. Saat bertemu, Imam Malik terkejut melihat anak kecil yang menghafal kitabnya dengan sangat fasih. Imam Syafi’i di Madinah menetap cukup lama untuk mendalami berbagai disiplin keilmuan.
Berguru ke Baghdad dan Mesir
Beliau tidak berhenti di Hijaz. Imam Syafi’i di Baghdad belajar kepada murid-murid Imam Abu Hanifah, seperti Muhammad bin Hasan asy-Syaibani. Keberadaan beliau di sini sangat strategis. Karena dari sinilah mazhab yang dia dirikan kelak seperti menjembatani dua aliran besar yang waktu itu sering bertolak belakang: mazhab ahlu hadits yang pusatnya di Hijaz dengan mazhab ar-Ra’yu yang berkiblat ke Iraq. Beliau mengambil yang terbaik dari keduanya.
Perjalanan hidup Imam Syafi’i selanjutnya membawanya ke Mesir. Di tanah Mesir ini beliau berguru kepada Imam Laits bin Sa’ad. Imam Syafi’i di Mesir akhirnya menemukan tempat yang pas untuk menyebarkan mazhab barunya yang lebih matang. Guru Imam Syafi’i sangat beragam, dan ini memperkaya perspektifnya dalam berijtihad.
Menguasai Bahasa Arab Sampai ke Akar-Akarnya
Kalau bicara soal penguasaan bahasa Arab, hampir tidak ada yang berani melawan Imam Syafi’i dalam perdebatan. Ketika beliau menggunakan pendekatan bahasa dalam membedah dalil Al-Qur’an atau hadits, lawan debat biasanya langsung terdiam. Kenapa? Karena analisis bahasanya presisi banget, dalam, dan sulit dibantah. Mempelajari biografi imam asy syafi i tidak akan lengkap tanpa menyinggung dedikasinya pada ilmu bahasa.
Kekuatan bahasa ini bukan datang tiba-tiba. Salah seorang putrinya pernah bersaksi bahwa Imam Syafi’i menghabiskan waktu dua puluh tahun. Ya, DUA PULUH TAHUN! Khusus untuk mempelajari bahasa Arab dan sejarah bangsa Arab. Beliau bahkan sampai tinggal bersama suku Hudzail selama bertahun-tahun untuk mempelajari sastranya. Ketika ditanya kenapa sampai selama itu, beliau menjawab dengan sederhana bahwa yang diinginkan hanyalah agar terbantu untuk memahami fiqih.
Hampir tidak ditemukan lahn atau kesalahan berbahasa dalam tulisan maupun ucapan beliau. Padahal ini masalah yang lumrah terjadi pada ulama-ulama lain. Ibnu Hisyam, ahli besar dalam ilmu sirah, sampai berkata bahwa Syafi’i adalah hujjah dalam bahasa. Artinya, kalau beliau bilang suatu kata atau kalimat itu benar atau salah secara bahasa, ya itu yang benar. Titik. Beberapa muridnya pernah menjumpai orang-orang ahli bahasa yang datang ke majelis beliau. Mereka bukan datang untuk belajar fiqih lho, tapi sekadar ingin mempelajari dan menikmati kefasihan bahasa sang guru. Ibarat orang datang ke konser cuma untuk mendengarkan suara penyanyi favorit, bukan karena suka lagunya.
Pemikiran dan Karya Imam Syafi’i
Kitab Ar-Risalah dan Kitab Al-Umm
Kontribusi Imam Syafi’i dalam Islam sangatlah besar, terutama dalam dunia keilmuan. Beliau dikenal sebagai pendiri Mazhab Syafi’i sekaligus perumus ilmu ushul fiqih. Kitab karya Imam Syafi’i sangat banyak, tapi yang paling fenomenal adalah kitab Ar-Risalah dan kitab Al-Umm. Kitab Ar-Risalah menjadi buku pegangan para ulama dalam memahami metodologi penetapan hukum Islam. Sementara kitab Al-Umm memuat berbagai macam persoalan fiqih beserta dalil dan argumennya.
Metode Ijtihad dan Pemikiran
Pemikiran Imam Syafi’i mengalami perubahan atau penyempurnaan seiring perpindahan beliau dari Baghdad ke Mesir. Hal ini melahirkan apa yang dikenal dengan qaul qadim (pendapat lama) dan qaul jadid (pendapat baru). Metode ijtihad Imam Syafi’i sangat ketat. Beliau menempatkan Al-Qur’an di posisi tertinggi, lalu Sunnah, kemudian ijmak, dan terakhir qiyas. Ilmu fiqih Imam Syafi’i dan ilmu hadis Imam Syafi’i saling melengkapi. Beliau tidak menerima sebuah hadits begitu saja, beliau juga meneliti kualitas dan jalur periwayatannya. Murid Imam Syafi’i sangat banyak, tersebar di berbagai penjuru, dan mereka menjadi pembawa estafet mazhab ini di kemudian hari.
Tawadhu dan Pengakuan Para Ulama
Diakui Kawan, Bahkan Lawan Sekalipun
Kisah hidup Imam Syafi’i mencatat pencapaiannya yang luar biasa, bahkan melampaui guru-gurunya sendiri menurut pengakuan para ulama. Pernah Abu Tsaur ditanya, siapa yang lebih dalam ilmunya: Syafi’i atau Muhammad bin Hasan asy-Syaibani? Jawabannya mengejutkan. Asy-Syafi’i dinilai lebih alim daripada Muhammad bin Al-Hasan, juga Abu Yusuf, bahkan lebih alim dari Abu Hanifah, lebih alim dari Hammad, lebih alim dari Ibrahim, bahkan lebih alim dari Alqamah, dan bahkan lebih alim dari al-Aswad.
Pernyataan ini berat. Beliau sedang bilang bahwa Syafi’i lebih alim dari rantai guru-guru besar yang silsilahnya panjang sampai ke generasi sahabat. Tapi perlu diingat, ini penilaian subjektif dari seorang ulama. Setiap imam mazhab punya keunggulannya masing-masing. Keutamaan Imam Syafi’i memang diakui secara luas, tapi beliau tidak pernah merasa lebih hebat.
Rendah Hati yang Luar Biasa
Meski keilmuannya diakui melampaui banyak ulama, beliau terkenal sangat tawadhu’ dan sangat memuliakan guru-gurunya. Ada kisah menarik. Suatu ketika beliau diminta mengajar di Masjid Nabawi sepeninggal Imam Malik. Tahu apa yang dilakukannya? Dia menolak duduk di kursi yang biasa digunakan gurunya. Beliau memilih duduk di samping kursi itu. Lebih mengharukan lagi, saat berfatwa, dia sering melirik ke arah kursi bekas Imam Malik seakan-akan meminta persetujuan. Padahal gurunya sudah wafat. Ini bukan cuma hormat biasa. Level penghormatan seperti ini jarang kita temukan di zaman sekarang.
Imam Syafi’i dan Imam Ahmad memiliki hubungan yang sangat erat. Meski Imam Ahmad lebih senior dalam usia dan merupakan salah satu murid terbesarnya, Imam Syafi’i sangat menghormati keilmuan Imam Ahmad, khususnya dalam ilmu hadis. Sebaliknya, Imam Ahmad sangat menyarankan anak-anaknya untuk belajar fiqih kepada Imam Syafi’i.
Selain ahli fiqih dan hadits, beliau juga seorang sastrawan kelas dunia. Siapa saja yang pernah membaca Diwan asy-Syafi’i, kumpulan puisi-puisinya, pasti akan terpesona dengan kefasihan dan keindahan bahasanya. Syair-syairnya bermutu tinggi, temanya mengena, bahasanya berkelas. Puisi-puisi beliau banyak yang berisi nasihat, renungan tentang kehidupan, dan hikmah mendalam. Sampai sekarang syair-syair itu masih sering dikutip orang.
Fitnah dan Ujian Berat
Seperti para ulama besar lainnya, Imam Syafi’i juga mengalami ujian berat. Beliau pernah dituduh mendukung kelompok pemberontak atau makar. Tuduhan serius di masa itu. Akibatnya, dia ditangkap dan digelandang dari Yaman menuju Iraq. Perjalanan ribuan kilometer yang melelahkan untuk diadili. Ancaman hukuman mati sudah menanti. Tapi dengan izin Allah, kecerdasan dan kefasihannya dalam menyampaikan argumen menyelamatkan dirinya. Dia berhasil membuktikan ketidakbersalahannya dan selamat dari rencana jahat musuh-musuhnya. Ini salah satu ujian terberat yang menunjukkan bahwa jalan dakwah dan ilmu tidak selalu mulus.
Mazhab yang Diikuti Mayoritas Ulama
Sejarah Mazhab Syafi’i berkembang pesat setelah beliau wafat. Mazhab ini menjadi salah satu mazhab yang paling banyak pengikutnya di dunia Islam. Kalau kita lihat ulama-ulama besar yang namanya sering disebut dan akrab di telinga kita hari ini, mayoritas mereka bermazhab Syafi’i. Dari Indonesia, Malaysia, Mesir, sampai ke berbagai penjuru dunia Islam. Ajaran Mazhab Syafi’i terasa sangat moderat, menyeimbangkan antara teks nash dan akal sehat.
Yang menarik, beberapa ulama yang sebenarnya sudah mencapai derajat mujtahid mutlak—artinya mampu membuat mazhab sendiri—tetap memilih puas mengikuti mazhab ini. Contohnya Imam Baihaqi dan Imam Bukhari. Imam Baihaqi dengan jujur mengakui bahwa ia telah membandingkan ijtihad masing-masing para imam mazhab. Ternyata kudapati Syafi’i yang paling mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah, yang paling kuat hujjahnya, yang paling shahih qiyasnya, dan paling jelas bimbingannya. Ini pengakuan dari ulama besar, bukan dari pengikut fanatik biasa.
Wafat dan Warisan Keilmuan
Wafat Imam Syafi’i di Mesir
Wafat Imam Syafi’i terjadi di Mesir pada tahun 204 Hijriah dalam usia 54 tahun. Usia yang relatif muda untuk ukuran ulama besar, tapi karyanya benar-benar tidak akan pernah mati. Menjelang wafatnya, beliau menunjukkan semacam karamah dengan memberitahu murid-muridnya tentang keadaan sebagian dari mereka sepeninggalannya nanti. Prediksi-prediksi beliau ternyata benar-benar terjadi.
Di saat-saat terakhir, beliau masih sempat melantunkan syair yang sangat bermakna. Syair itu kira-kira berbunyi, ada sebagian orang yang berharap aku mati dan aku benar-benar akan mati. Kematian adalah jalan yang pasti aku tempuh, dan aku bukan seorang diri. Katakan kepada orang yang berharap suatu hal berbeda dengan yang telah terjadi, bersiaplah engkau menghadapi kematian serupa dengan yang pasti akan menghampiriku. Syair ini seperti pesan terakhir yang mengingatkan kita semua tentang kepastian kematian. Siapa pun kita, seberapapun tinggi ilmu dan kedudukan kita, kematian tetap akan datang menjemput.
Makam dan Warisan Abadi
Makam Imam Syafi’i terletak di pemakaman Al-Qarafah, Mesir. Tempat ini menjadi salah satu destinasi yang sering diziarahi oleh umat Islam dari berbagai penjuru dunia. Bukan untuk meminta berkah dari kuburannya, karena hal itu tidak dibenarkan dalam Islam, tapi untuk mengenang jasa-jasa beliau dan mengambil pelajaran dari kehidupannya. Warisan keilmuan Imam Syafi’i terus mengalir seperti air.
Lebih dari 1200 tahun setelah beliau wafat, nama Imam Syafi’i masih sangat dihormati. Kitab-kitabnya masih dikaji di pesantren-pesantren dan universitas Islam di seluruh dunia. Perkembangan Mazhab Syafi’i terus mengalami penyempurnaan oleh murid-muridnya. Kalau kita renungkan, apa yang membuat seseorang bisa meninggalkan warisan sebesar ini? Bukan harta, bukan kekuasaan. Tapi ilmu yang bermanfaat. Ilmu yang diajarkan dengan ikhlas, diamalkan dengan konsisten, dan disebarkan kepada murid-murid yang kemudian menyebarkannya lagi ke generasi selanjutnya. Inilah amal jariyah yang sesungguhnya.
Pelajaran dari Biografi Sang Imam
Membaca biografi imam asy syafi i hingga akhir, kita dihadapkan pada beberapa pelajaran berharga dari sejarah imam mazhab ini. Pertama, pentingnya menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh. Beliau menghabiskan dua puluh tahun hanya untuk menguasai bahasa Arab. Bandingkan dengan kita yang kadang merasa sudah pintar setelah belajar beberapa bulan.
Kedua, rendah hati meski ilmu sudah tinggi. Semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin rendah hati dia. Bukan semakin sombong dan merasa paling benar sendiri. Ketiga, menghormati guru. Di zaman sekarang yang serba digital dan instan, nilai-nilai penghormatan kepada guru kadang luntur. Padahal guru adalah orang yang telah membukakan pintu ilmu untuk kita. Keempat, fokus pada hal yang bermanfaat. Beliau tidak menghabiskan waktunya untuk hal sia-sia. Setiap ilmu yang dipelajarinya punya tujuan jelas: untuk memahami agama dengan lebih baik. Semoga kisah ulama besar Islam ini menginspirasi langkah kita. Wallahu a’lam bishawab.
Sumber referensi:
- Faqih wal Mutafaqqih (2/41)
- Al-Wafi bil Wafayat (19/143)
- Mukhtashar Tarikh Dimasyq (6/434)
- Ma’rifatussunan Wa al-Atsar (1/213)





Komentar
Bagikan pendapat atau tanggapan Anda tentang artikel ini.